|

Gus Rifqil Muslim: Kitab Ulama Klasik itu Lestari karena Ditulis dengan Ikhlas

Diupload pada: Rabu, 6 September 2023

Nyantrikilat.com – Influencer dakwah An-Nahdliyah Gus Rifqil Muslim Suyuthi menyampaikan bahwa kelestarian kitab kuning karena dikarang dengan sangat ikhlas dalam Pembukaan Nyantri Kilat 3.0, Kamis malam (23/03).

“Kenapa kitab kuning klasik itu masih dipelajari hingga saat ini meskipun pengarangnya sudah meninggal? Ya karena pengarangnya sangat ikhlas sekali,” terang Gus Rifqil.

Peradaban ikhlas menurut Gus Rifqil sudah menjadi laku ulama klasik sehingga dalam mengajarkan agama, mereka tidak mengukur seberapa banyak yang bisa mereka terima tetapi seberapa banyak yang bisa mereka berikan.

Terkait kemanfaatan sebuah kitab, Gus Rifqil menceritakan kisah kitab nahwu yang sangat masyhur, yaitu matan Jurumiyah.

“Kenapa namanya Jurumiyah? Karena kitab ini setelah pengarangnya menulis, untuk menguji keikhlasannya, beliau melemparkan kitab itu di sungai,” jelasnya.

Makna dari Jurumiyah, lanjut dia, berasal dari dua suku kata, yaitu juru artinya mengalir dan miyah artinya air, ”Karena kitab tersebut dilemparkan di air sungai yang mengalir,” lanjut Pengasuh Pesantren Manbaul Hikmah Kaliwungu Kendal tersebut.

Sejarah kitab yang dikarang oleh ulama asal Maroko yang bernama Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash-Shanhaji alias Ibnu Ajurrum (w. 1324 M) itu menurut Gus Rifqil menjadi salah satu tolak ukur dari wajah keikhlasan ulama terdahulu dalam mensyiarkan keilmuan Islam.

Berbeda dengan beberapa pengarang zaman ini yang dinilai Gus Rifqil mengarang kitab di waktu yang relatif muda, “Di usia yang belum tuntas secara emosional,” tegasnya.

Selain itu, Gus Rifqil juga menyampaikan tentang bagaimana sebagai seorang muslim menyikapi perubahan zaman yang serba digital ini.

“Man habba syay’ fahuwa abduhu, orang yang mencintai sesuatu dia akan menjadi budaknya, kita sekarang berlomba-lomba seakan-akan ingin mendapatkan exposure tinggi, validasi di media sosial,” ujar suami Ning Imaz ini.

Media sosial memang menjadi barang mewah di zaman ini, karena itu Gus Rifqil juga memberi batasan terhadap apa yang digeluti oleh generasi saat ini, terutama bagi generasi muda yang dekat dengan dunia digital.

“Jangan sampai kita diperbudak oleh media sosial,” anjurnya.

Oleh karena itu, dalam konteks mengaji, Gus Rifqil mencoba mengingatkan apabila mengaji membutuhkan selain sebuah kesiapan lahir dan batin juga pengetahuan tentang adanya jalur sanad yang benar. Karena sanad adalah sumber dimana kitab isa mengukur kadar otentitas keilmuan yang kita pelajari.