Nyantrikilat.com – Ning Najhaty Sharma mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bertabarruk dengan orang lain dalam Closing Nyantrikilat 3.0, Kamis (13/4/23).
“Zaman dahulu, suatu ketika Rasulullah Saw pernah meminta air untuk minum, lalu beliau berkata; “tolong diambilkan di tempat itu!”, kata Pengasuh Pesantren Almunir Pangkat Tegalrejo Magelang Jawa Tengah itu.
Tapi, lanjut dia, sahabat tidak langsung mengiyakan perintah Rasulullah Saw tersebut. Nabi mengulang lagi, “Ambil di tempat itu, saya maunya di tempat itu karena yarjuu barakatan aydilmuslimin saya mengharapkan barokah dari tangan-tangan orang muslim yang berwudu di tempat itu”.
“Jadi Rasulullah Saw juga bertabarruk dengan orang muslim dan airnya itu diminum oleh beliau,” jelasnya.
Penulis novel Dua Barista itu menjelaskan semesta dari barokah yang bisa melekat terhadap banyak hal, mulai dari barokah umur, usia, wkatu, harta, hingga barokah ilmu.
“Kita kalau melihat Nabi Nuh yang berusia 1700 tahun, berarti kita bukan apa-apanya. Maka, makna dari thawil umurana (panjangkan usia kita) itu aslinya keberkahan usia tersebut,” terangnya.
Ning Najhaty menjabarkan bahwa kita diajarkan sama Rasulullah Saw untuk berdoa “thawwil umurana” kok maksudnya adalah usia secara angka, “Maka nanti kita hidup sendiri orang lain sudah mati berarti kita kan nanti hidup sendirian, ya?” kelakar Ning Najhaty, sapaan akrabnya kepada santri Nyantrikilat 3.0.
Selain itu, Alumni PPSPA Sunan Pandanaran Yogyakarta ini juga menjelaskan bahwa esensi dari bertabarruk adalah cinta.
“Menurut Syaikh Ramadhan Al Buthi, tabarruk itu esensinya cinta. Ketika kita mencintai guru kita itu persis seperti kita mencintai ibu kita,” terang Ning Najhaty.
Menurut Bu Nyai yang lahir di Magelang 30 Juli 1988 itu salah satu ekspresi cinta adalah dengan ta’dhim terhadap guru, ulama dan orang-orang yang kita akui keilmuannya. Sesederhana dengan bagaimana kita mengingat nasihat-nasihat guru-guru kita menurut Ning Najhaty sudah termasuk sebagai bertabarruk.
Tidak berhenti di situ, Ning Najhaty juga memperluas makna tabarrukan atau ngalap barokah sebagai tawasul atau wasilah.
Wasilah itu, menurutnya, adalah sesuatu perantara yang mengantarkan seseorang untuk menghasilkan tujuannya.
Sembari mengutip Kitab Hujjah Ahlussunnah Waljama’ah karangan Kiai Ali Maksum, Ning Najhaty menjelaskan bahwa bentuk wasilah itu ada lima; asmaul husna, amal shalih, do’a orang shalih, bertawasul dengan orang shalih, tabarruk binnabi.
“Tabarrukan atau ngalap berkah itu masuk kepada bab tawashul, wasilah. Tawasul itu berdoa kepada Allah, kenapa harus melibatkan ulama lain? Karena kagungan ulama tersebut, tetapi tetap madep mantep terhadap Allah subhanahu wata’ala,” Ning Najhaty menandaskan.